Category: Kesultanan Banjar

Raja Banjar Ingatkan Warganya Sebarkan Kebaikan Membangun Langkat

(Analisa/alimuddin lubis). Bupati Langkat Haji Ngogesa menerima cenderamata dari Raja Banjar H Khairul Saleh Al-Muhtasim Billah pada acara silaturrahim dan peringatan Maulid Nabi Muhammad sekaligus peletakan batu pertama pembangunan gedung sekretariat Paduan Masyarakat Kulawarga Kalimantan (PMKK) Kabupaten Langkat di Rumah Adat Banjar Lampau Banu Jalan RA Kartini Komplek Perkantoran Pemkab Langkat, Senin (25/2).

Stabat, (Analisa). Raja Banjar Sultan H Khairul Saleh Al-Muhtasim Billah mengimbau warga dan Kakulaan Banjar di Langkat untuk menyatukan langkah, visi-misi, menyemaikan kekompakkan, menggalang solidaritas yang berkaitan dengan kebaikan, kemajuan, keadilan dan pembangunan serta kesejahteraan bagi masyarakat Langkat.

Hal itu dikemukakan Sultan dalam rangkaian Silaturrahim dan peringatan Maulid Nabi Muhamad sekaligus peletakan batu pertama gedung sekretariat Paduan Masyarakat Kulawarga Kalimantan (PMKK) Kabupaten Langkat di Rumah Adat Banjar “Lampau Banua” Jalan RA. Kartini Komplek Perkantoran Pemkab Langkat, Senin (25/2).

Sultan Banjar yang juga Bupati Banjar Provinsi Kalimantan Selatan berpesan warga Banjar yang ada di perantauan haruslah mendahulukan dan mengutamakan kepentingan pembangunan dan kebaikan warga setempat di Langkat.

“Ulun kagum dengan warga Langkat, Dimana duduk Taampar, di situ Kakulaan dibina” kata Khairul Saleh dengan sedikit menggunakan bahasa Banjar menyampaikan ungkapan yang kira-kira berarti warga Banjar dimana saja tinggal bertanggung jawab

Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu, SH mengatakan, keberadaan masyarakat Banjar memiliki sumbangsih bagi terpeliharanya kondusifitas maupun pembangunan materil spritual.

Ngogesa berharap semboyan Pangeran Antasari yang juga merupakan motto masyarakat Kalimantan Selatan yakni “Waja” Sampai Kaputing” mampu diimplementasikan bagi perjuangan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat Langkat hingga tercapainya tujuan.

“Semangat dan semboyan ini dapat diwujudkan bagi kebersamaan masyarakat Banjar guna memberikan yang terbaik bagi bumi Langkat berseri,” sebut Ngogesa yang bergelar Datuk Setia Abdi Negeri itu.

Ngogesa menyatakan, Read more →

Share

Raja Banjar Himbau Warganya di Sumut Dukung Gatot-T.Erry

STABAT- Raja Banjar Tuanku Baginda Sultan Gusti Khairul Saleh menghimbau warga Banjar yang ada di Sumatera Utara mendukung pasangan Islami, pengalaman dan yang mendukung etnis Banjar. Menurutnya pasangan nomor urut lima yaitu Gatot Pujo Nugroho dan Tengku Erry Nuradi tepat untuk dipilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut periode 2013-2018.

“Keduanya adalah pejabat yang mengedepankan perilaku Islami dalam hidupnya sehingga sesuai dengan adat masyarakat Banjar. Keduanya juga sangat dekat dengan warga Banjar,” ujar Sultan Khairul Saleh, di Rumah Adat Kalimantan/Banjar Lampau Banua, Jl RA Kartini, Langkat, Senin, (25/2). Hal tersebut disampaikannya saat acara Peringatan Maulid (Aruf Maulid) Nabi Muhammad SAW sekaligus peletakan batu pertama pembangunan sekretariat Paduan Masyarakat Kulawarga Kalimantan (PMKK) berukuran 7×16 meter persegi.

Sultan Khairul Saleh mengatakan bahwa ciri orang Banjar adalah selalu menjalankan syariat Islam, dan gemar shalat berjamaah seperti diatur dalam perjanjian adat. Di matanya, Gatot dan Tengku Erry adalah sosok yang menjalankan syariat Islam dengan baik dan menilainya memiliki kesantuan, kebaikan, dan perhatian luar biasa ke semua etnis, khususnya warga Banjar.

“Alhamdulillah orang Banjar di perantauan sangat diperhatikan oleh pejabat setempat. Terima kasih kepada pak Gatot selaku pimpinan Sumut dan sekaligus pembina masyarakat Banjar disini,” ujarnya.

Sultan ke-23 yang berbalut baju Kebesaran Sultan Banjar pun Read more →

Share

Sultan Banjar Hadiri Reuni Akbar Keluarga Murung Pudak Tanjung

Reuni Akbar Keluarga Murung Pudak Tanjung

 

Jakarta –  Untuk mempererat tali silaturrahmi antar warga Banjar – Tanjung diperantauan, Karukunan Kaluarga Murung Pudak Tanjung Tabalong (KKMTT) di Jakarta mengadakan Reuni Akbar dan Halal Bihalal bagi warga Banjar – Tanjung Kerukunan Keluarga Murung Pudak Tanjung Tabalong (KMMTT) se – Jabodetabek dan sekitarnya, dengan mengambil Tema Beimbai Menuju Sukses, Minggu (10/02/2013)

Acara tersebut berlangsung di Gedung Serbaguna Mahabrata – Desa Wisata Hotel & Resort Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Sultan Banjar Yang Mulia Sultan Haji Kahairul Saleh yang juga Bupati Banjar, berkesempatan menghadiri acara tersebut. Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwa sangat mengapresiasi kegiatan ini untuk menumbuhkan ikatan erat silaturahmi sesama warga yang mempunyai ikatan batin dengan Bumi Sarabakawa Murung Pudak Tanjung Tabalong baik yang berdomisili di Jabodetabek dan kota-kota lainnya. Beliau mengharapkan agar kegitan ini tidak hanya sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi lebih dari itu agar bisa menjadi ajang bertukar informasi bagi sesama warga banjar-tanjung di perantauan.

“Orang banjar yang ada di Perintahanan Pusat masih sangat sedikit, kedepan harus ada kaderisasi untuk menambah orang banjar yang bisa berkarier di pemerintahan pusat sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki” katanya.

Sultan Haji Khairul Saleh mengatakan, rumput jangan mealahakan banua, pribahasa ini identik dengan dimana Bumi dipijak disitu langit dijunjung. “Hidup damai, rukun, dan berdampingan antar  warga banjar- tanjung yang tersebar di Jakarta dengan masyarakat lainnya  harus terus dijaga dan dipelihara sehingga suasana kondusif di tengah-tengah masyarakat bisa terus terpelihara,” ujarnyanya.

Reuni dan Halal Bilahal tersebut  dihadiri pula oleh Wakil Bupati Tabalong H. Muchlis SH, Kepala Dinas Pendidikan Tabalong, Sesepuh KKMTT H. M. Thalhah, Ketua KKMTT Ir. H. A. Ghazali Rahman dan tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh agama tanjung lainnya.

Terkait dengan Kesultanan Banjar yang ada sekarang, Sultan Banjar menjelaskan, bahwa Kesultanan Banjar merupakan simbol kebanggaan dan perekat persatuan urang Banjar yang ada di banua dan di perantauan baik dalam negeri maupun mancanegara. Selaku Sultan Banjar, beliau mengharapkan hendaknya Kesultanan Banjar dapat menjadi ruh atau spirit bagi generasi sekarang dan yang akan datang dalam mempertahankan adat dan tradisinya.

“Ingat bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mempertahankan budaya adat dan tradisinya sebagai identitas dan perekat anak bangsa” tambahnya.

Share

Kesultanan Banjar Simbol Perekat Kebanggaan Urang Banjar

Melalui peringatan Haulan Sultan Adam tahun ini, penting pula kami sampaikan lagi Kebangkitan Kesultanan Banjar adalah hanya sebagai simbol budaya dan perekat kebanggaan urang Banjar  baik di banua, di perantauan maupun di luar negeri,”

Peringatan Haul ke 160 Sultan Adam Al-  Watsiq Billah bin Sultan Sulaiman Saidullah II ,  di Kediaman Bupati Banjar,  Jl  A Yani Km 2 Martapura Provinsi Kalimantan Selatan, Sabtu (9/2)  berlangsung  penuh khidmat dan keluargaan.

Ratusan masyarakat dan para zduriat, ulama, habib serta unsur dari kalangan pemerintahan daerah  terlihat khusyuk saat mengikuti tahlilan dan doa bersama dipimpin Pangeran H Mardikansyah dan Habib Abdullah Assegaf.

Turut hadir para Datu dan Adipati Kesultanan Banjar dari kabupaten/kota se Kalsel.  Mereka sejak kemarin sore bersama para dzuriat dan masyarakat melakukan salat hajat dan tahilan di Makam Sultan Adam  Jl  Sultan Adam Martapura.

Sultan Banjar H Khairul Saleh dalam sambutannya mengatakan peringatan Haul ke 160 Sultan Adam Al- Watsiq Billah tahun ini  berbeda dari tahun –tahun sebelumnya.

Menurut Sultan Khairul Saleh, peringatan terhadap sultan yang berjasa bagi masyarakat Banjar tersebut bisanya dilaksanakan di rumah Mufti Besar Kesultanan Banjar Tuan Guru H M Djazouly  Seman.  Namun sejak wafatnya beliau 14 Oktober 2011, peringatan dilaksanakan di Kompleks Pemakaman Sultan Adam Martapura. Dan untuk peringatan tahun ini dilaksanakan di Mahligai Sultan Adam.

Sebagai wujud kecintaan dan terima kasih kita atas  jasa besar beliau dalam mengokohkan dan membesarkan syiar Islam (Guru  Abah Anang, Red), Sultan Khairul dalam haulan Sultan Adam itu juga mengajak para jamaah untuk berdoa dan tahilan bersama untuk  almarhum Tuan Guru Abah Anang.

“Banyak keteladanan yang diwariskan Sultan Adam dan ulama-ulama  yang patut kita contoh dalam kehidupan sehari-hari, terutama keteguhan dalam melaksanakan syariat agama. Tidak itu saja mereka dengan pengorbanan besar turut berjasa menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,” terang Khairul.

Kebangkitan Kesultanan Banjar pada 24 Juli 2010 melalui rapat Musyawarah Tinggi Adat, sebut Khairul,  juga dalam rangka mengukuhkan kembali nilai-nilai luhur  budaya elok masyarakat Banjar tempo dulu.

“Berdirinya Kesultanan Banjar hanya sebagai simbol budaya dan perekat simbol kebanggan Urang Banjar baik di  banua, di perantauan dan luar negeri. Keberadaan Kesultanan Banjar mengembang misi melestarikan nilai-nilai luhur Budaya Banjar yang masih layak untuk dipertahankan,” tegasnya.

Bupati Banjar ini pun memberikan contoh betapa berjasanya para sultan bersama masyarakat Banjar dalam melawan kolonialisme. Perang Banjar termasuk perang terbesar dan paling lama di Indonesia dari 1859 sampai  1906.

“Nilai nilai dan semangat perjuangan para raja dan sultan Banjar itulah yang patut kita teladani karena  mereka tetap teguh mempertahankan tanah Banjar,” paparnya.

Pada Peringatan    Haulan ke 160 Sultan Adam juga dibacakan Manakib Sultan Adam oleh Tuan Guru Pangeran Wardiansyah. Materi manakib tersebut dituliskan bagaimana perjuangan besar seorang sosok Sultan Adam untuk mewujudkan kesejahteraan dan keamanan serta penguatan nilai-nilai Islam kepada rakyatnya.

Share

Sultan Banjar yang memerintah di Kesultanan Banjar

1. Sultan Suriansyah. (1520-1546)

Nama kecil Raden Samudra. Raja Banjar pertama yang memindahkan pusat pemerintahan di Kampung Banjarmasih (Kuin) menggantikan Maharaja Tumenggung (Raden Panjang), Dia ahli waris yang sah sesuai wasiat kakeknya Maharaja Sukarama (Raden Paksa) dari Kerajaan Negara Daha dibantu Mangkubumi Aria Taranggana. Raden Samudera memeluk Islam pada 24 September 1526. Makamnya di Kompleks Makam Sultan Suriansyah dengan gelar anumerta Sunan Batu Habang. Dalam agama lama, Pangeran Samudra dianggap hidup membegawan di alam gaib sebagai sangiang digelari Perbata Batu Habang.

 

2. Sultan Rahmatullah (1546-1570)

Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah. Pemerintahannya dibantu mangkubumi Aria Taranggana. Makamnya di Kompleks Makam Sultan Suriansyah dengan gelar anumerta Panembahan Batu Putih.

 

3. Sultan Hidayatullah I (1570-1595 )

Sultan Hidayatullah I bin Rahmatullah. Pemerintahannya dibantu mangkubumi Kiai Anggadipa. Makamnya di Kompleks Makam Sultan Suriansyah dengan gelar anumerta Panembahan Batu Irang. Trah keturunannya menjadi raja-raja Taliwang dan sultan-sultan Sumbawa.

Read more →

Share

Mendapat Upakarti dari Presiden

Share

Turut Berduka Cita

Turut Berduka Cita yang sedalam-dalamnya atas berpulang ke rahmatullah Kerabat Kesultanan Banjar Yang Mulia:

Prof. Dr. Datu Djantera Kawi

dalam usia 71 tahun. Pada Minggu,30 September 2012 pukul 16.00 Wita di Banjarmasin.

Semoga Almarhum mendapat limpahan rahmat dan ridha dari Allah SWT, dan beliau diberikan tempat mulia di sisi-Nya (Raudhatun Min Riyaadhil Jannah).

Bagi keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan serta kekuatan Iman. Amin yaa Robbal ‘Alamiin.

Share

Perubahan Jadwal Pemberian Penjelasan (aanwijzing) Sayembara Desain Arsitektur Istana Kediaman Sultan Banjar

Diberitahukan kepada seluruh peserta Sayembara Desain Arsitektur Istana Kediaman Sultan Banjar, bahwa jadwal Pemberian Penjelasan (aanwijzing) diundur menjadi Hari Selasa, tanggal 2 Oktober 2012. Jam 09.00 wita.

Demikian pengumuman ini disampaikan.

Share

Pusat Kebudayaan Masyarakat Banjar

Istana Kesultanan Banjar akan dijadikan sebagai  pusat pelestarian berbagi budaya budaya masyarakat Banjar dan di Istana tersebut juga akan dilengkapi tempat atau pentas untuk menggelar berbagai seni dan budaya  serta museum .

Istana Kesultanan Banjar diwacanakan menjadi salah satu tujuan wisata seni dan budaya di kalimantan selatan. Untuk itu disekitar Istana disediakan berbagai fasilitas untuk pertunjukan seni dan budaya  khas melayu Banjar yang akan menarik para wisatawan lokal atau mancanegara.

Share

Sayembara Desain Arsitektur Istana Kediaman Sultan Banjar

Layaknya sebuah Kesultanan, membutuhkan tempat representatif untuk berkumpul, bersilaturahmi serta bermusyawarah guna membicarakan persoalan-persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat dan sekaligus menjadi tempat tinggal Sultan. Tempat tersebut diharapkan juga dapat menjadi ikon  dan kebanggaan bagi masyarakat sebagaimana keraton-keraton di seluruh Nusantara. Sepanjang sejarah, Kesultanan Banjar memiliki budaya dan wibawa yang sangat besar di Nusantara. Bahkan tidak dipungkiri, kebangkitan Kesultanan Banjar, sangat diakui negara-negara tetangga maupun negara-negara maju di Eropa.

Tapi kebanggaan masyarakat terhadap Kesultanan Banjar tidak cukup hanya dengan menunjukkan peninggalan-peninggalan yang sudah mulai lapuk, tanpa mampu menunjukkan keberadaan Istana Kesultanan Banjar sebagaimana Keraton di daerah lain sebagai wujud pelestarian budaya, menuju revitalisasi kawasan sebagai Kota Pusaka.

Istana sebagai pusat kegiatan Kesultanan Banjar lebih menekankan pelestarian budaya  dengan nilai-nilai sosial-historis yang tetap eksis sebagai sumber inspirasi dan penggerak masyarakat yang positif dan konstruktif.

Harapan untuk memiliki bangunan Istana Kediaman Sultan Banjar merupakan hal yang logis karena hampir semua Kesultanan Nusantara yang kini bangkit rata-rata memiliki keraton. Pembangunan kembali Istana Kediaman Sultan Banjar diharapkan dapat selaras dengan Peraturan Perundang-undangan, sekaligus menghidupkan kembali Budaya Nusantara yang terancam  punah dan kalah dalam persaingan global hingga tidak selalu positif bagi warga bangsa Indonesia yang memiliki agama dan budaya sendiri.

Sebuah desain Istana dibangun berkembang mengiringi kemajuan peradaban bangsa itu sendiri, meliputi kemajuan teknologi, keilmuwan dan lebih mengoptimalkan pada hasil seni yang terpakai atau seni yang berfungsi. Bentuk fisik Istana tidak harus selalu monoton atau selalu terkurung dalam kebakuan masa lalu, namun berkembang terus dan berpadu dengan perkembangan modern yang Islami serta tidak mengurangi nilai-nilai budaya khas Banjar.

Jiwa dari bangunan Istana Banjar lebih mengedepankan manfaat dalam budaya, sosial dan melingkup dalam aspek yang luas untuk megahnya sebuah citra kebudayaan Banjar.

Hal-hal lain mengenai sayembara ini dapat dilihat dengan mendownload Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan Formulir Pendaftaran Sayembara Desain Istana Kediaman Sultan Banjar di website ini.

 

Kerangka Acuan Kerja (KAK) Sayembara Desain Istana Kediaman Sultan Banjar

Formulir Pendaftaran Sayembara Desain Istana Kediaman Sultan Banjar

Share