Category: News

Mengobati Kerinduan Perantau Banjar

Urang Banjar madam ka tanah seberang Gawian badagang lawan bahuma Ulun baharap pian baik-baik dengan semua orang Supaya hidup sejahtera di tanah Sumatra Labat pinang di tangah kampung Masak satangkai andak di pati Sedih hati ulun bapisah dengan urang sakampung Mudahan di lain waktu badapat lagi Bukan tikar sembarang tikar Tikar kami berlapis empat Bukan Banjar sembarang Banjar Banjar berbuat negeri bermartabat Pantun bait pertama diucapkan Sultan Banjar Khairul Saleh dalam mengawali sambutannya, yang mendapatkan respons hangat dan meriah dari warga Banjar. Bait kedua diucapkan Sultan di akhir sambutannya, sehingga menimbulkan rasa haru yang mendalam, dibarengi kata: amiin, oleh hadirin. Meskipun Khairul Saleh mengaku orang Banjar tidak sepandai orang Melayu dalam berpantun, namun pantun dan sambutan Sultan mendapatkan sambutan luar biasa dari ribuan hadirin. Bait ketiga adalah pantun balasan dari tuan rumah, Bupati Langkat Haji Ngogesa Sitepu. Pantun itu merupakan bentuk penghargaan dan terimakasih terhadap komunitas Banjar di daerahnya yang sudah sekian lama menjadi bagian dari penduduk Langkat. Orang Banjar dinilai sebagai warga yang baik, rukun, menyukai kedamaian, lebih banyak bekerja daripada berbicara. Orang Banjar juga bisa dipegang janji dan kata-katanya, seperti halnya buah manggis, kalau kulit luar seginya enam, maka isinya juga enam, dan seterusnya. Itulah sekelumit suasana acara pertemuan Sultan Banjar dengan warga Banjar di Provinsi Sumatra Utara, khususnya Kabupaten Langkat. Acara ini dihadiri sejumlah pejabat, di antaranya Plt Gubernur Sumatra Utara Gatot Pujo Nugroho, Bupati Serdang Bedagai Tengku Erry Nuradi, Bupati Langkat Haji Ngogesa Sitepu sebagai tuan rumah, yang mewakili Kesultanan Langkat Tengku Abdul Aziz Tajul Muluk, ketua dan anggota DPRD, Ketua MUI, para awak media dan lainnya. Gatot dan Tengku Erry merupakan pasangan calon gubernur dan wakil gubenrur dalam pilkada Sumut. Pengobat Rindu Memang sudah lama masyarakat Banjar di perantauan merindukan kehadiran Sultan Banjar H Khairul Saleh di daerah mereka masing-masng, termasuk yang berdomisili di Kabupaten Langkat, Kabupaten Serdang Bedagai dan sebagainya di Provinsi Sumatra Utara. Sebelumnya Sultan juga sering diminta memenuhi undangan warga Banjar di daerah lain seperti Pontianak, Sambas, Kotawaringin, Menpawah, Buton, Bulungan, Jakarta, Yogyakarta, Pekanbaru, Tembilahan, dll. Kerinduan mereka itu disebabkan: Pertama, datuk nenek mereka memang berasal dari banua Banjar Kalimantan Selatan, yang walaupun sudah merantau puluhan tahun masih terkenang dengan banua asal. Kedua, mereka mendengar cerita tentang banua Banjar dari para leluhurnya, sehingga menimbulkan kerinduan yang mendalam. Ketiga, hanya sebagian kecil dari mereka yang berkesempatan pulang, mudik atau apalah namanya ke banua Banjar, untuk menjenguk danm bersilaturahim dengan sisa-sisa keluarga yang masih ada. Sebagai perekat dengan tanah leluhur dan pengobat kerinduan akan banua Banjar, komunitas Banjar di perantauan tetap berusaha memegang adat istiadat dan budaya Banjar, baik di segi bahasa, sikap dan tingkah laku, pola dan gaya hidup, kesenian, sikap beragama, jenis makanan, cara berpakaian dan sebagainya. Namun ternyata semua itu belumlah cukup untuk mengobati kerinduan. Mereka tetap menginginkan ada tokoh atau pejabat di banua Banjar yang berkenan menjenguk, berkunjung atau mailangi mereka yang hidup di tanah seberang. Itu sebabnya mereka berkali-kali meminta kepada Sultan Banjar H Khairul Saleh untuk berkenan datang. Akhirnya kesempatan itu pun tiba. Khairul Saleh yang mereka sebut Tuanku Baginda Khairul Saleh al-Mu’tashim Billah didampingi Drs H Abd Ghani Fauzi MM (Kabid Budaya Dinas Pariwisata Banjar) dan Masrur Auf Ja’far SH MH (Intan Banjar) memenuhi undangan Paduan Masyarakat Kulawarga Kalimantan (PMKK) Kabupaten Langkat akhir Februari lalu,. Sultan diundang untuk meresmikan Rumah Adat Banjar ”Lampau Banua” yang terletak di Kompleks Perkantoran Bupati Langkat di ibukota Stabat, Langkat. Undangan sekaligus untuk peletakan batu pertama pembangunan Gedung Sekretariat PMKK Langkat. Tak ayal kesempatan itu digunakan oleh warga Banjar untuk melepas kerinduan. Mereka merasa sangat bahagia dan berebutan menyalami dan merubung Sultan. Setiap kata dan kalimat dalam sambutan Sultan yang dipadukan dengan bahasa Banjar sebagai bahasa sehari-hari warga Banjar di pernatauan, didengar dengan seksama dan penuh perhatian. Sekejap mereka seolah sedang berada di banua Banjar. Terlebih ketika Sultan menceritakan kronologi Perang Banjar melawan Belanda dalam kurun 1859-1906 yang notabene merupakan perang terlama melawan penjajah di Nusantara, berikut keberanian para pejuang Banjar, hadirin terkesima dan bangga akan leluhurnya. Mereka juga mendukung kebangkitan kembali Kesultanan Banjar dalam ranah budaya. Membangun Solidaritas Rumah Adat Banjar Lampau Banua dibangun oleh Pemkab Langkat bersama komunitas Banjar setempat. Keberadaan bangunan ini sebagai penghargaan terhadap keberadaan masyarakat Banjar yang ikut membangun daerah dalam suka dan duka. Gedung juga dimaksudkan sebagai wadah berkumpul dan fasilitasi kegiatan agama dan budaya, khususnya bagi masyarakat Banjar setempat, yang berjumlah puluhan ribu orang. Menurut Effendi Sadli, tokoh Banjar yang juga beprofesi sebagai dai, penduduk Banjar di Provinsi Sumatra Utara mendekati 500 ribu orang. Beberapa yang terbanyak adalah di Kabupaten Langkat dan Serdang Bedagai. Masyarakat Banjar tetap memelihara identitas kebanjarannya, namun juga terbuka dalam bergaul lintas etnis, ujar Yamigha Urba Yusra (Pupoy)., tokoh pemuda Medan asal Aceh yang menyambut dan mendampingi Sultan selama di Medan dan Langkat. Hal ini diamini oleh HM Rusli, HM Bahrun Jamil, HM Husin, HM Effendi Sadli, H Maulana Rawi al-Banjari dan Zainuddin, tokoh dan ulama Banjar setempat. Zainuddin yang berjuluk Zainuddin Martapura bersama 70 orang dipimpin Bupati Serdang Bedagai Tengku Erry Nuradi (adik kandung Tengku Rizal Nurdin, mantan Pangdam Bukit Barisan dan Gubernur Sumatra Utara yang tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat), merasa beruntung pernah sekali berkunjung ke Banjar, bertemu Sultan Banjar di Martapura dan mengikuti ceramah Ketum PB-NU Prof Dr KH Said Aqil Siraj dan KH Bahran Jamil di kediaman Pengusaha Abidin HH di Banjarmasin, 2010 lalu. Mereka sangat ingin jika kesempatan itu terulang lagi di kemudian hari. Selama ini mereka tidak memiliki wadah berkumpul, kecuali di rumah para tetuha Banjar. Maka dengan adanya rumah adat ini, intensitas dan kualitas perkumpulan warga Banjar akan makin ditingkatkan,. Sehingga terbangun solidaritas dan soliditas antarwarga Banjar. Sebagaimana peribahasa, ”di mana duduk taampar di situ kukulaaan tabina”. Tanpa bermaksud menggurui, Sultan pun kembali menekankan perlunya warga Banjar di perantauan untuk saling menolong antarsesama, tetap menjaga kerukunan, dan pandai beradaptasi, sebagaimana peribahasa, ”di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Dengan begitu, warga Banjar di perantauan tidak menjadi beban atau pembuat konflik sosial, melainkan terus memberikan nilai tambah yang bermanfaat untuk sama-sama membangun daerah secara bermartabat. Penulis buku ”Refleksi Banua Banjar”, dukungan Kesultanan Banjar.

Share

KesultananBanjar Utus Dua Datuk Hadiri Konvensyen panBorneo di Brunei

KesultananBanjar Utus Dua Datuk Hadiri Konvensyen panBorneo di BruneiBANDAR SERI BEGAWAN – Pusat Sejarah Brunei mengadakan Konvensyen penBorneo 2013 dari tanggal 13-14 Mei 2013 di Bandar Seri Begawan Brunei Darussalam. Acara tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pentingnya sejarah Borneo dan meningkatkan pengkajian tentang sejarah dan hal-hal berkaitan dengan masa depan Borneo. Hal ini dilakukan untuk melakukan penyelamatan warisan budaya Borneo dalam rangka menghadapi masalah global. Bagi Negara Brunei dan kawasan kerajaan dan kesultanan lain di Kalimantan Barat, Selatan dan Timur merupakan kesinambungan pemahaman peradaban Melayu Islam dan Dayak. Konvensyen panBorneo diikuti oleh seluruh utusan kerajaan dan kesultanan di kawasan Borneo/Kalimantan dan kalangan Universitas Brunei, Serawak, dan Sabah Malaysia serta dari Holland untuk mempertemukan pemikiran dan kajian borneo di masing-masing tempat, termasuk peradaban, agama, social budaya, adat tradisi, manuskrip dan sejarah kerajaan/kesultanan. Kegiatan ini dibagi dalam dua komponen program yakni pameran sumber kajian borneo dan penyampaian makalah sekitar 41 judul yang juga dihadiri para peninjau, mahasiswa, guru-guru Negara Brunei Darussalam dan peminat kajian Borneo. Dari Kalimantan Selatan dihadiri oleh dua orang utusan Kesultanan Banjar yakni DMA H. Syarifuddin yang mengangkat judul makalah Kerakatan Kerajaan dalam Hubungan Budaya sebagai Jendela Borneo. Sedangkan DCH Taufik Arbain mengangkat judul makalah Perang Banjar, Migrasi dan Penyebaran Islam di Negeri Serumpun Melayu Borneo. Menurut Taufik Arbain kehadiran kesultanan Banjar di konvensyen tersebut merupakan kehormatan dari kerajaan Brunei Darussalam untuk berbagi pikiran tentang kepentingan peradaban Borneo khususnya peradaban Melayu yang dilakukan Kesultanan Banjar sejak masa lalu hingga sekarang di selatan Borneo. “Pada acara tersebut kita bisa mendengarkan beberapa paparan dari pihak Kesultanan lain di Kalimantan, Brunei dan universitas di Sabah, Serawak dan Brunei sehingga mendapatkan titik temu dan saling tali temali atas pengkajian-pengkajian borneo”, ungkap dosen Fisip Unlam ini. Sementara itu menurut DMA Syarifuddin, kegiatan yang dicadangkan oleh Kerajaan Brunei sebagai Pusat Kajian Borneo akan mengeratkan hubungan antar pihak dan saling member, membangun silaturahmi dan kunjungan dalam rangka melakukan pengkajian borneo dan mengkomunikasikan perkembangan masing-masing. (humas/by/ram)

Share

SULTAN KHAIRUL SALEH dan JOKOWI

Perubahan memerlukan motor penggerak dan sebesar-besarnya resiko motor penggerak adalah berani bergerak di awal perubahan (Pepatah Barat) Ketika menyaksikan Program TV swasta tayangan reality dunia pendidikan, ada stage yang menggugah serta memantik keingintahuan kita lebih dalam. Yaitu tentang bagaimana siswa sekolah terpencil menjawab dengan lugu “Tidak Tahu” ketika ditanya siapa gubernur provinsinya? Namun ketika ditanya siapa Gubernur Jakarta anak itu menjawab dengan lantang dan berteriak “JOKOWI..” katanya. Ya, Jokowi. Memang sosok pria kurus dan bermuka “ndeso” ini menjadi fenomena dalam setengah dasawarsa terakhir ini. Perilaku yang tidak konvensional menjadi ciri khas Jokowi. Perilaku Blusukan, pemotongan jalur birokrasi, pelelangan jabatan, Role Model Jaminan Kesehatan dan Pendidikan dan teruss berlanjut sampai sekarang. Setiap gerakannya merubah muka kepemimpinan konvensional yang selama ini stabil elitis. Tidak salah kemudian media menyebut Jokowi sebagai “Media Darling”. Semua Koran atau media elektronik nasional menugaskan 1 wartawannya untuk mengekor “ritual” Jokowi dari pagi sampai malam. Konon kabarnya salah satu Koran nasional bahkan menugaskan 3 wartawannya selama 24 jam bergantian khusus untuk mengamati gerak-gerik jokowi. Fenomena kepemimpinan seperti ini tentu saja merobek-robek kepemimpinan konvensional. Bak gayung bersambut dengan harapan masyarakat yang mendamba-dambakan kepemimpinan unik dan populer seperti ini. Dalam konteks regional, yang unik dan menarik, juga terjadi dalam fenomena kepemimpinan di Kalimantan Selatan. Seorang Bupati Banjar berdarah biru “memproklamirkan” restorasi Kesultanan Banjar pada Tahun 2010. Setelah sebelumnya mendirikan Lembaga Adat Kekerabatan Kesultanan Banjar dan melakukan Musyawarah Tinggi Adat dengan para keturunan dan tokoh terpandang Banua Banjar. Seperti halnya di awal kemunculan Jokowi, Sang Sultan Khairul Saleh juga kenyang dengan cacian, hinaan dan fitnah yang bertendensi bahwa kesultanan hanya bungkus untuk kepentingan yang lebih besar. Fitnah yang paling besar adalah bahwa sang sultan akan melakukan kudeta budaya. Sesuai pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu, LAKKB dengan Sultan Khairul Saleh secara konsisten membangkitkan kembali budaya Banjar yang hampir terlupakan oleh zaman. Dari menghidupkan kembali festival budaya banjar tahunan, mengikutsertakan kesenian Banjar di event internasional, membantu seniman budaya Banjar, Pertandingan silat tradisional (kuntau), Peringatan Asyura, Pemberian Gelar Adat dan lain-lain. Namun dari semua ini, menurut penulis yang paling terberat dan berisiko besar adalah penasbishan Sang Sultan. Tidak sembarang orang yang mampu mengemban beban berat seperti ini dengan segala resikonya. Andai saja penulis yang menjadi SULTAN di tahun 2010 pun Kesultanan ini akan kembali tenggelam. Namun dengan semua tenaga tercurah, waktu, pikiran dan tentunya perasaan, Sultan Khairul Saleh, tetap bersedia berkorban untuk mengusahakan kembali jayanya Kesultanan Banjar setelah ratusan tahun “punah”. Berbeda dengan di awal periode berdirinya LAKKB. Sekarang masyarakat Kalsel sedikit banyak aware bahwa telah bangkit Kesultanan Banjar. Ini adalah murni dalam konteks kebudayaan dan tidak ada unsur lain sebagai agenda utama. Masyarakat bisa menilai bahwa Kesultanan Banjar modern telah banyak membantu pengenalan dan pembangkitan kembali budaya-budaya daerah yang hampir dilupakan. Salah satu bukti utama adanya pengakuan dari Kerajaan lain di Nusantara dan Negara Jiran serumpun melayu (Malaysia dan Brunei) bahwa Kesultanan Banjar telah bangkit dan selalu diundang dalam forum-forum resmi kerajaan. Seperti Forum Silaturahmi Kerajaan Nusantara (FKSN), forum ini didorong oleh Pemerintah Pusat untuk menghidupkan kembali budaya-budaya daerah yang menjadi entitas daerah masing-masing. Dua tahun setelah berdirinya Kesultanan Banjar, LAKKaS dengan sumber daya mandiri dan menggunakan enumerator survey Mahasiswa, melakukan riset ilmiah dengan mensurvei penerimaan masyarakat terhadap Kesultanan Banjar era modern. Hasilnya cukup positif. Mayoritas responden yang dipilih secara acak dari seluruh Kabupaten/Kota di Kalsel menyatakan menerima dan setuju berdirinya kembali kesultanan Banjar, sebanyak 62 % (akseptabilitas tinggi). Rata-rata mereka mengetahui keberadaan kesultanan Banjar utamanya melalui media massa (61 %) (Pers Release 08 Januari 2012, Permata Inn Hotel). Memang setelah ditarik benang merah, penerimaan masyarakat lebih cenderung kepada telah adanya upaya positif acara tahunan Kesultanan Banjar konsisten menghidupkan kembali Budaya Banjar. Sampai saat ini pihak Kesultanan Banjar tidak pernah secara khusus melakukan sosialisasi terbuka dan langsung kepada masyarakat. Inilah penyebab masyarakat hanya mengetahui tentang Kesultanan Banjar hanya dari media massa. Cibiran dan Hinaan lambat tapi pasti telah berubah menjadi pujian. Masyarakat sudah sadar bahwa era feodalistik yang menganggap bangsawan diatas derajatnya dari masyarakat biasa sudah lewat. Kesultanan Banjar tida hadir untuk menghidupkan kembali budaya feodalistik namun sebagai pencetus dan katalisator budaya-budaya Banjar untuk kembali hidup dan diwariskan ke anak cucu. Masalah gelar Sultan atau penunjukan Sultan pun tidak menjadi soal. Yang menjadi soal sekarang adalah, ketika Sultan Khairul Saleh mau berkorban untuk Budaya Banjar kenapa kita lantas antipati. Mestinya kita bertanya balik apa yang sudah kita korbankan untuk Banjar tercinta ini. Sewajarnya masyarakat Banjar yang dulu pernah bersatu padu dan berjaya dalam wadah Kesultanan Banjar hidup dan menghidupi kembali jiwa-jiwa Banjar kita. Ada istilah Jangan becakut papadaan, haram manyarah , waja sampai kaputing harus kita junjung. Biarlah masyarakat yang menjadi penilai atas ikhtiar pengabdian yang dilakukan. () *) Direktur Eksekutif LAKKaS (Lembaga Kajian Kemanusiaan)

Share

Foto penghargaan dari Sultan Banjar Milad ke-508 Kesultanan Banjar

Share

Wisuda Santri TK TP A se-Asean

DARI MARTAPURA SYIAR ISLAM BERGEMA HINGGA KE ASEAN

Martapura, Sabtu (24/11). Berbagai persiapan jelang pelaksanaan Khatmul Quran dan Wisuda Lembaga Pembinaan dan Pengembangan TK Alquran (LPPTKA) Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) tingkat ASEAN terus dilakukan.

Even skala internasional yang kali pertama digelar di Kabupaten Banjar ini berlangsung meriah, Pelaksanaan Khatmul Quran dan Wisuda LPPTKA tingkat Asean difokuskan di Halaman Pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS) Martapura dengan menggunakan tenda mewah.

Ribuan santri dari 23 provinsi di Indonesia tumpah ruah memenuhi tenda – tenda acara pada pagi itu. “Khatmul Quran dan wisuda se-Asean ini digelar dalam rangkaian Milad ke-508 Kesultanan Banjar,” ujar Ketua Panitia Khatmul Quran H.Pangeran Abidinsyah

“Jumlah santri yang datang sekitar 2.300 orang. Khusus dari Kabupaten Banjar ada sekitar 2.012 santri,” terang Abidinsyah.

Sedangkan provinsi dari 150 orang dan ASEAN dari Thailand dan Malaysia 12 orang. “Syiar Islam tak pernah padam di kota berjulukan Serambi Mekkah, Kota Martapura.,” katanya

Saking banyaknya warga yang hadir dalam even ini, sebagian peserta justru tak tertampung di tempat penyelenggaraan acara.

Beberapa peserta yang tak tertampung ini lebih memilih berada di luar dan menunggu dipanggil untuk diwisuda.  “Lebih baik berfoto dulu aja. Di dalam sudah tak cukup,” ujar Santi, santri dari Desa Sungai Tuan Ulu, Astambul.

Dalam acara tersebut juga dilaksanakan pengundian hadiah berangkat umruh ke Tanah Suci Mekkah untuk Ustadz dan Ustadzah yang mengajar di TK/TP Al-Qur’an di Kabupaten Banjar.

Tampak hadir di panggung acara Bupati Banjar yang juga Sultan Banjar H. Pangeran Khairul Saleh beserta permaisuri, Wakil Bupati Banjar Dr.H.Ahmad Fauzan Saleh,M.Ag Hasnuryadi Sulaiman HB dari Hasnur Group, Ketua Umum BKPRMI Pusat Ali Muchtar Ngabalin, Staf Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) RI, Staf Menteri Agama RI, serta acara ditutup dengan tausiah agama disampaikan Ustadz Muhammad Nur Maulana dari Jakarta. (ari/sayuti)

Share

Pembagian 10.000 Bubur Maknai Asyura 10 Muharram

Tanggal 10 Muharram 1434 H adalah suatu momen yang sangat membahagiakan bagi ummat Islam sedunia, hari ini dekenal dengan Hari Asyura yang menjadi salah satu titik kemuliaan Bulan Muharram. Dalam beberapa riwayat, Tanggal 10 Muharram menjadi salah satu dimana berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam terjadi, diantaranya Allah menerima taubat Nabi Adam AS atas kesalahan yang menyebabkan diturunkan kebumi.

Sedemikian banyak keistimewaan yang terjadi namun yang paling penting adalah bulan dimana Tahun Baru Hijriah dimulai, Tahun Barunya Ummat Islam. Kesultanan Banjar memaknai ini sebagai titik dimana Kesultanan Banjar bangkit dari tidur panjangnya untuk menggapai kemuliaan bersama seluruh rakyat dijalan budaya.

Meraih berkah Allah SWT dengan mempertahankan tradisi leluhur serta mematri ajaran Islam dalam detik jantung kebudayaan. Agama Islam serta akhlak budi dan daya luhur adalah syahadat budaya yang menjadi komitmen Kesultanan Banjar.

Raja Muda Sultan Banjar H Pangeran Khairul Saleh selaku pemegang amanat penerus kesultanan banjar mengajak seluruh masyarakat untuk bersama membangkitkan dan melestarikan tradisi Bubur Asyura sebagai alat persatuan.

“betapa indahnya melihat seluruh kita berbahagia dalam persatuan, kerahmanan dan kerahiman. Ulun yakin apabila ini terus kita bina tidak ada perpecahan antara kita,” tandas Raja Muda Sultan Banjar saat membuka acara Asyura Kesultanan Banjar, Sabtu (24/11) pagi tadi bertempat di Alun-Alun Ratu Zalecha Martapura.

Peringatan Hari Asyura ini merupakan rangkaian Milad Kesultanan Banjar ke-508 Raja Muda Sultan Banjar H Pangeran Khairul Saleh dan seluruh kerabat Kesultanan  bertekad untuk tetap istiqomah pada perjuangan membangkitkan dan mempertahankan kebudayaan banjar yang luhur. Dengan harapan anak cucu kita nanti menjadi generasi yang berbudi luhur dan berdaya hebat dalam mengarungi kehidupan modern yang semakin global.

Milad ke-508 ini dimaknai tema “Menjunjung Marwah Kukuhkan Kejayaan” sebagai pertanda langkah tegas Kesultanan Banjar diranah budaya. Raja Muda Sultan Banjar H Pangeran Khairul Saleh merasa kegiatan-kegiatan rangkaian Milad ini belum dapat memenuhi kehausan masyarakat terhadap tuntutan kerja budaya. Namun Raja Muda Sultan Banjar ingin menunjukkan bahwa Kesultanan Banjar berikhtiar sungguh-sungguh dalam kerja budaya yang dirintis selama dua tahun ini.

”sejak awal seluruh masyarakat ulun undang beramai-ramai menyaksikan dan mengikuti Even tahunan ini. Karena sejatinya ini bukan Even Kesultana tapi Even milik Masyarakat Banjar,” pungkasnya.

Acara ini juga dihadiri Wakil Bupati Banjar Drs. H Ahmad Fauzan Saleh, Menkokesra Prof Drs Yudian Wahyudi, Staf Ahli Menteri Agama RI Prof Dr Nanat Nasir, Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintah Nispuani, Ketua BKPRMI Pusat, Ketua BKPRMI Kalsel, Muspida Kab Banjar, Wakil Walikota Tual Propinsi Maluku Adam Narayana, seluruh Kepala SKPD, Camat dan turut hadir ketua PMI Kabupaten Banjar Mawardi Abbas. (pus/yanto/241112)

Share

Kesultanan Memimpin Peradaban Banjar

TAK bisa dipungkiri, sejak lahirnya Kesultanan Banjar 508 tahun lalu di Kuin-Banjarmasin, Kesultanan Banjar dengan Sultan Suriansyah sebagai sultan pertamanya memimpin peradaban orang Banjar, sehingga menjadikan kesultanan ini sejajar dengan kesultanan-kesultanan yang ada di Bumi Nusantara. Bahkan, keelokan kesejahteraan dan kemakmuran kesultanan membuat bangsa penjajah seperti Belanda tergiur untuk menguasai tanah Banjar.

Menurut mitologi suku Maanyan (suku tertua di Kalimantan Selatan), kerajaan pertama adalah Kerajaan Nan Sarunai yang diperkirakan wilayah kekuasaannya terbentang luas mulai dari daerah Tabalong hingga ke daerah Pasir. Keberadaan mitologi Maanyan yang menceritakan tentang masa-masa keemasan.Kerajaan Nan Sarunai sebuah kerajaan purba yang dulunya mempersatukan etnis Maanyan di daerah ini dan telah melakukan hubungan dengan pulau Madagaskar. Kerajaan ini mendapat serangan dari Jawa (Majapahit) sehingga sebagian rakyatnya menyingkir ke pedalaman (wilayah suku Lawangan). Salah satu peninggalan arkeologis yang berasal dari zaman ini adalah Candi Agung yang terletak di kota Amuntai. Pada tahun 1996, telah dilakukan pengujian C-14 terhadap sampel arang Candi Agung yang menghasilkan angka tahun dengan kisaran 242-226 SM (Kusmartono dan Widianto, 1998:19-20).

Menilik dari angka tahun dimaksud maka Kerajaan Nan Sarunai/Kerajaan Tabalong/Kerajaan Tanjungpuri usianya lebih tua 600 tahun dibandingkan dengan Kerajaan Kutai Martapura di Kalimantan Timur sekarang.

Menurut Hikayat Sang Bima, wangsa yang menurunkan raja-raja Banjar adalah Sang Dewa bersaudara dengan wangsa yang menurunkan raja-raja Bima (Sang Bima), raja-raja Bali (Sang Kuala), raja-raja Dompu(Darmawangsa), raja-raja Gowa (Sang Rajuna) yang merupakan lima bersaudara putera-putera dari Maharaja Pandu Dewata. Sesuai Tutur Candi (Hikayat Banjar versi II), di Kalimantan Selatan telah berdiri suatu pemerintahan dari dinasti kerajaan (keraton) yang terus menerus berlanjut hingga daerah ini digabungkan ke dalam Hindia Belanda sejak 11 Juni 1860. Read more →

Share

Raja Muda Letakkan Batu Pertama Istana Intan

MARTAPURA – Raja Muda Kesultanan Banjar H Pangeran Khairul Saleh disaksikan para bangsawan Kesultanan Banjar, pejabat penting dan tokoh ulama, habaib serta ratusan undangan lainnya melakukan peletakan batu pertama pembangunan Istana Kesultanan Banjar yang diberi nama Istana Intan di Martapura, Jumat (23/11).

Begitu Pangeran Khairul membacakan “Bismillah” sebagai tanda peresmian dimulainya pembangunan Istana Intan, ratusan hadirin bertepuk tangan sebagai pertanda gembira bahwa tak lama lagi, Kota Martapura akan memiliki icon baru, yakni Istana Intan yang menjadi Istana atau Keraton Kesultanan Banjar.

Keraton Kesultanan Banjar dalam sejarahnya berpindah-pindah, mulai dari Kuin ketika dipimpin Sultan Suriansyah sebagai raja yang pertama, hingga dipindah ke Martapura, sebelum akhirnya diluluhtantakkan penjajah Belanda pada sekitar 1860 atau hampir bersamaan dengan Perang Banjar.
Praktis, Kesultanan Banjar tidak memiliki warisan istana. Sementara sebagian kesultanan lain di Bumi Nusantara, masih ada peninggalan istana atau keratonnya.

Menurut Pangeran Khairul Saleh yang juga Bupati Banjar, peletakan batu pertama Istana Kesultanan Banjar ini merupakan momen penting dalam perjalanan sejarah Kesultanan Banjar di masa kini dan akan datang. Di sepanjang sejarah, Kesultanan Banjar memiliki wibawa yang luas di Bumi Nusantara.

Dikatakan, kebangkitan kembali Kesultanan Banjar telah mendapat pengakuan dari kesultanan lain baik, lokal, regional maupun internasional. Kebanggaan terhadap Kesultanan Banjar tidak cukup dengan melalui situs-situs benda bersejarah yang mulai lapuk dimakan usia, namun juga melalui pelestarian tradisi adat istiadat dan situs-situs budaya.

Pembangunan Istana Kesultanan Banjar sebagaimana keraton-keraton lainnya di Nusantara adalah merupakan salah satu upaya “melestarikan warisan budaya serta revitalisasi budaya yang menegaskan bahwa Martapura sebagai Kota Pusaka,” ujarnya. Bahkan Kota Martapura sudah lama dikenal sebagai Serambi Mekkah-nya Kalimantan, berkat Kesultanan begitu membina dengan baik pendidikan agama bagi warganya. Ulama terkenal hingga ke manca negara seperti Datu Kalampayan adalah salah satu aset berharga yang dibina Kesultanan dengan jalan dibiayai pendidikannya hingga ke Mekkah dan Madinah.

“Istana ini dinamanakan Istana Intan, sebagai simbol pengawal kebudayaan yang ikut serta dan berperan aktif membentuk moral generasi penerus masyarakat Banjar yang berbudi luhur, santun dan beradab sesuai dengan norma-norma budaya dan tradisi Banjar di tengah arus globalisasi yang semakin deras dewasa ini,” harap Pangeran Khairul. adi permana

Share

Khairul Saleh Dikukuhkan Sebagai Sultan Banjar

MARTAPURA – Pertengahan 2010 lalu dalam Milad ke-506 Kesultanan Banjar, Gusti Khairul Saleh yang adalah Bupati Banjar dianugerahi gelar Pangeran dan dipercaya memangku jabatan Raja Muda Kesultanan Banjar oleh Lembaga Adat dan Kesultanan Banjar (LAKB). Dua tahun kemudian dengan menimbang jasa-jasanya yang berusaha keras menampilkan kembali darjah dan marwah urang Banjar beserta adat istiadat, tradisi dan budayanya, maka Dewan Mahkota Kesultanan Banjar melalui ketuanya Pangeran Rusdi Effendi AR mengukuhkan Pangeran Khairul Saleh sebagai Sultan Khairul Saleh sekaligus sebagai Sultan Banjar era milenium.

Pengukuhan tersebut disampaikan di depan para bangsawan, tamu kehormatan, para pejabat dan para alim ulama di Gedung Dekranasda Banjar Jl A Yani Martapura, Minggu (25/11) kemarin melalui acara yang khidmat. Menurut Pangeran Rusdi Effendi yang juga adalah tokoh Pers Kalsel, Dewan Mahkota Kesultanan banjar memandang bahwa dedikasi Khairul Saleh dalam menyatukan para bangsawan, terus upaya menghidupkan kembali adat istiadat, tradisi, budaya dan kehormatan warga Banjar layak dibalas dengan penganugerahan dan pengukuhan Khairul Saleh sebagai Sultan Banjar. Dengan demikian, gelar Raja Muda telah ditingkatkan dan didefinitifkan menjadi Sultan Banjar.

Menurut Pangeran Rusdi, pengukuhan Sultan Banjar ini dipandang sangat penting dan mendesak dalam rangka kepentingan yang lebih luas, yakni mengangkat kehormatan warga Banjar yang memiliki simbol pemersatu kebudayaan, sejajar dengan tradisi maupun budaya suku bangsa lainnya di Bumi Nusantara, di mana di Indonesia juga telah ada 100-an kesultanan/kerajaan yang diakui pemerintah pusat sebagai warisan budaya dan kearifan lokal yang tak ternilai harganya.

Yang Mulia Sultan Khairul Saleh dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Dewan Mahkota Kesultanan Banjar, maupun semua pihak yang telah memberikan kepercayaan yang menurutnya berat dan mau tak mau harus dijunjung tinggi tersebut.

“Kesultanan Banjar berada di garis paling depan untuk membentuk karakter anak cucu warga Banjar yang berbudi luhur dan berdaya hebat di antara suku bangsa lainnya di Nusantara,’ ucapnya. Ditambahkan, Milad ke-508 Kesultanan Banjar merupakan momentum jihad budaya yang diharapkan bisa menjadi spirit masyarakat Banjar untuk menghargai budayanya sendiri yang luhur (adiluhung) lagi takzim keopada ajaran Islam.

“Untuk mengangkat marwah masyarakat Banjar tak ada jalan lain selain membangkitkan kembali adat-istiadat, tradisi dan budaya yang penuh dengan tatakrama, sopan santun diiringi nilai-nilai religius (Islami),” tegasnya. Menurutnya, pelaksanaan Milad Kesultanan Banjar akan slalu dibarengi dengan Festival Muharram agar masyarakat Banjar memiliki identitas yang kokoh dan mencintai Tahun Baru Islam, bukan seperti sekarang hanya kenal dengan Tahun Baru Masehi.

Sultan Khairul Saleh juga berkenan menganugerahi gelar-gelar kehormatan kepada para tokoh yang dipandang telah berjasa melestarikan budaya Banjar, juga tokoh yang berjasa mengayomi warga Banjar di perantauan. Sultan Banjar juga membnerikan hadiah kepada para pemenang desain Istana Intan yang kelak akan dipakai sebagai masterplan pembangunan Istana Kesultanan Banjar.

Sebelumnya, pada Sabtu (24/11) bertepatan dengan 10 Muharram 1434 H adalah suatu momen yang sangat membahagiakan bagi ummat Islam sedunia, hari ini dikenal dengan Hari Asyura yang menjadi salah satu titik kemuliaan bulan Muharram. Dalam beberapa riwayat, Tanggal 10 Muharram menjadi salah satu dimana berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam terjadi, diantaranya Allah menerima taubat Nabi Adam AS atas kesalahan yang menyebabkan diturunkan ke bumi.

Sedemikian banyak keistimewaan yang terjadi namun yang paling penting adalah bulan dimana Tahun Baru Hijriah dimulai, Tahun Barunya Ummat Islam. Kesultanan Banjar memaknai ini sebagai titik dimana Kesultanan Banjar bangkit dari tidur panjangnya untuk menggapai kemuliaan bersama seluruh rakyat di jalan budaya. Meraih berkah Allah SWT dengan mempertahankan tradisi leluhur serta mematri ajaran Islam dalam detik jantung kebudayaan. Agama Islam serta akhlak budi dan daya luhur adalah syahadat budaya yang menjadi komitmen Kesultanan Banjar.

Sultan Banjar, Yang Mulia Sultan Khairul Saleh selaku pemegang amanat penerus Kesultanan Banjar mengajak seluruh masyarakat untuk bersama membangkitkan dan melestarikan tradisi Bubur Asyura sebagai alat persatuan. “Betapa indahnya melihat seluruh kita berbahagia dalam persatuan, kerahmanan dan kerahiman. Ulun yakin apabila ini terus kita bina tidak ada perpecahan antara kita,” tandas Sultan Banjar saat membuka acara Asyura Kesultanan Banjar, Sabtu (24/11) pagi tadi bertempat di Alun-Alun Ratu Zalecha Martapura.

Peringatan Hari Asyura ini merupakan rangkaian Milad Kesultanan Banjar ke-508, Sultan Banjar dan seluruh kerabat Kesultanan  bertekad untuk tetap istiqomah pada perjuangan membangkitkan dan mempertahankan kebudayaan banjar yang luhur. Dengan harapan anak cucu kita nanti menjadi generasi yang berbudi  luhur dan berdaya hebat dalam mengarungi kehidupan modern yang semakin global.

Milad ke-508 ini dimaknai tema “Menjunjung Marwah Kukuhkan Kejayaan” sebagai pertanda langkah tegas Kesultanan Banjar di ranah budaya. Sultan Khairul Saleh merasa kegiatan-kegiatan rangkaian milad ini belum dapat memenuhi kehausan masyarakat terhadap tuntutan kerja budaya. Namun Raja Muda Sultan Banjar ingin menunjukkan bahwa Kesultanan Banjar berikhtiar sungguh-sungguh dalam kerja budaya yang dirintis selama dua tahun ini. ”sejak awal seluruh masyarakat ulun undang beramai-ramai menyaksikan dan mengikuti Even tahunan ini. Karena sejatinya ini bukan even Kesultanan tapi even milik masyarakat Banjar,” pungkasnya.

Acara ini juga dihadiri Wakil Bupati Banjar Drs. H Ahmad Fauzan Saleh, Menkokesra Prof Drs Yudian Wahyudi, Staf Ahli Menteri Agama RI Prof Dr Nanat Nasir, Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintah Nispuani, Ketua BKPRMI Pusat, Ketua BKPRMI Kalsel, Muspida Kabupaten Banjar, Wakil Walikota Tual Propinsi Maluku Adam Narayana, seluruh Kepala SKPD, Camat dan turut hadir Ketua PMI Kabupaten Banjar Mawardi Abbas. adi permana

Share

Sultan H. Khairul Saleh Al-Mu’tashim Billah

 

Share